Tampilkan postingan dengan label Life Lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Lesson. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2014

Five years to remember: Hidup untuk Mengenangmu


“Ketika hidup terasa sebagai sebuah perulangan. Di situ mati merupakan peralihan yang membebaskan.”

Lima tahun lalu, 23 Maret 2009, adalah hari paling berat dalam hidupku. Seorang adik sepupuku meninggal dalam sebuah kecelakaan tabrak lari. Dan sampai sekarang peristiwa itu seolah terkubur bersama dengan jasadnya, di sudut kota Wonosobo sana, kota kecil kelahiran kami.

Dedi Kurniawan, begitu nama lengkapnya. Umur kami hanya selisih dua tahun. Kami menghabiskan masa kecil bersama di salah satu kampung di daerah Wonosobo. Lima tahun lalu, 22 Maret 2009 pukul 23.15 WIB, aku mendapatkan SMS darinya. Waktu itu dia sudah menjadi seorang polisi dengan pangkat Briptu, sedangkan aku sudah bekerja di Jogjakarta dan tinggal di kosan. Dia ditugaskan di daerah Tegal. Entah di polres, polsek atau apa, aku nggak mudeng.

“Mbaaaaaaaaaaak.....” Begitu bunyi SMS-nya.
Aku pun langsung membalas, “Kenapa malem2 teriak2? Lagi mumet ya?”
Beberapa menit kemudian, dia membalas lagi, “Haha, nggak. Mau konsultasi spiritual nih.”
 Kubalas singkat, “Kenapa? Putus cinta?”
“Nope! Lagi nggak mikirin itu. Ini masalah hidup.” Katanya lagi di SMS-nya.

09 Januari 2011

Campur Tangan Tuhan

Pernahkah kamu memperhatikan, bahwa sekeras apapun kita mencoba, kita tak dapat mengontrol berbagai kejadian dalam hidup? Apakah kita dilahirkan di sebuah keluarga yang diinginkan? Apakah kita senang dengan pekerjaan yang semula kita kira sangat sempurna? Apakah pasangan kita menjadi sesosok orang yang selama ini kita idam-idamkan?

Dan, pernahkan kamu memperhatikan, bahwa kamu melakukan sesuatu demi mencapai hasil tertentu yang terkadang hasilnya jauh daripada yang kamu harapkan? Seakan-akan kita boleh saja berencana, menetapkan target-target, menciptakan visi-visi dan berbagai master plan, lalu mengayunkan langkah untuk mencapainya, tetapi kita tak akan pernah tahu detail apa saja yang akan terjadi dalam hidup kita.

Kita tak akan pernah tahu apakah detail yang kita bayangkan akan pudar dan lenyap, atau berubah wujud menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda, bahkan tak terbayangkan, apakah itu menyenangkan atau membosankan.

27 Oktober 2010

Belajar Melepaskan



Malam itu aku sedang terpekur di depan ATM di salah ruas jalanan di Jogjakarta. Aku mengobrak-abrik lagi isi tasku. Kukeluarkan satu per satu isinya, kemudian aku masukkan lagi. Aku membuka dan menutupnya, kemudian membuka lagi, sambil sesekali mengumpat dan sesekali pula mengedarkan pandanganku ke arah sekeliling. Aku periksa tong sampah, kemudian aku menyusuri selokan untuk mencari dompetku yang tiba-tiba raib dari dalam tas.

Setelah satu jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa dompetku akan kembali, aku memutuskan pulang dengan perasaan dongkol, kesal, marah dan kesemuanya itu berkecamuk menjadi satu.

Sesampainya di rumah, otakku terus memikirkan dompet itu; Hilang di mana? Ditemukan siapa? Bakal dikembalikan atau tidak? Malah, aku sempat mencurigai tukang parkir yang sedang jaga malam itu. Betapa pikiran buruk itu telah menyita banyak energiku, yang ujung-ujungnya aku hanya bisa mengumpat dan uring-uringan sepanjang malam.

24 Desember 2009

Children of Heaven

Adalah Taqi, seorang bocah berusia 5 tahun. Berperawakan kecil, kelihatan cerdas dan kritis dibanding anak seusianya yang sekarang masih duduk di TK Nol Kecil.

Hari itu ada lomba mewarnai di sekolahnya. Taqi tidak bilang ke ibunya akan lomba tersebut yang sebenarnya sudah lama dia nantikan. Mungkin dia kasian melihat ibunya selalu kerepotan mengurus adiknya yang saat ini baru berumur 2 tahun dan satunya lagi masih berumur 5 bulan. Ya, Taqi mempunyai 2 orang adik yang masih kecil-kecil di rumah. Sedangkan ayahnya sering ditugaskan ke luar kota oleh kantor tempat kerjanya.

Hari itu pun Taqi berangkat ke sekolah seperti biasa. Sia berangkat sendiri, berbarengan dengan ibu dari teman-temannya yang sudah menenteng krayon dan meja gambar. Sedangkan Taqi, tetap penuh percaya diri melenggang dengan tangan kosong.

12 Oktober 2009

Fun Fearless Female

Fun Fearless Female.
Apa yang terlintas dibenak Anda ketika membaca ataupun denger deretan kalimat itu?

Seorang wanita yang menikmati hidup (maybe), berani (mungkin), luwes dalam pergaulan, semringah, mandiri, tahu tujuan hidup dan mimpi yang akan diraihnya... bla..bla..bla..

Yang jelas, ketika ada formulir pemilihan Fun Fearless Female 2009 di Majalah Cosmopolitan, aku segera mengisi dan mengirimkan kembali ke majalah tersebut.

Deretan panjang persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:
* Wanita, lajang/belum menikah
* Usia 18-30 tahun
* Cantik, fotogenik dan mempunyai proporsi tubuh ideal
* Memiliki tinggi min. 165 cm
* Memiliki talenta dan berwawasan luas
* Citra diri sebangai Fun Fearless Female (Modern, mandiri dan menikmati hidup)
* Mengisi formulir dilampiri struk pembelian L'Oreal  dan foto 3 lembar.

Hanya selang 2 hari setelah aku mengirimkan seperangkat alat perang itu, aku ditelepon untuk mengikuti seleksi lebih lanjut yang meliputi tes interview dan pemotretan. Lagi, dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan, antara lain: memakai rok jeans mini, you can see putih polos, high heels minimal 7 cm, dan lain lain..

Tepat sehari sebelum hari ulang tahunku tanggal 6 Oktober kemarin, aku yang ditemani sang pacar menumpang kereta kelas bisnis menuju Jakarta. Suasana arus balik masih terasa karena kami tidak mendapat tempat duduk dan rela duduk di atas kotak peralatan bersih-bersih pegawai CS kereta tersebut. Sumpek, sesak, panas, apapun kami rasakan sepanjang perjalanan kurang lebih 10 jam dari Jogjakarta.

08 September 2009

Kupingku Dijewer Si Bapak

Tak sengaja mataku menangkap siluet seorang bapak-bapak yang kalo aku taksir umurnya sekitar 50 tahun. Dia sedang tertidur, bersandar pada pagar di seberang rumahku. Sepeda ontel yang memuat sebuah kursi rotan besar bertengger di sebelahnya.

Aku masuk ke rumah untuk meneruskan aktivitas memasak nasi goreng, tapi pikiranku tak bisa beranjak dari si bapak. Setelah selesai, aku mematikan kompor dan segera mendatanginya. Matanya masih terpejam. Lelap.

Suasana hiruk-pikuk di luar tidak mampu membangunkan tidur si bapak. Aku memberanikan diri mengusik tidurnya. Bapak itu masih terlelap ketika panggilan yang ketiga kali pun tak kuasa membangunkannya.

Aku tunggu sampai beberapa menit.
Kupandang kerutan di wajahnya dan handuk yang melingkar di leher. Aku trenyuh. Kutepuk pundaknya dan akhirnya bapak itu mengangkat kepala yang -mungkin- terasa berat.

"Sudah makan, Pak? Mari Pak mampir ke rumah, saya baru saja goreng nasi..." kataku yang disambut dengan senyum sumringahnya.

31 Agustus 2009

Kena Marah Atasan



Hari Senin diakhir bulan Agustus, waktu yang biasanya aku habiskan dengan kesibukan dari pagi hingga sore di kantor menjadi sedikit “aneh” ketika sudah jam 11 aku masih asyik dibalik bed cover di kamarku yang nyaman.

Telepon pertama berdering di handphonku, ya dari atasanku:
Dia: “Dewi, mana report training kemarin? Ko’ belum di email?”
Aku: (dengan suara masih serak) “Oke pak, nanti segera saya email”

Aku kembali menarik selimut ketika beberapa menit kemudian handphoneku berdering, kulihat dilayar, masih dengan nama yang sama.

19 Agustus 2009

Cerita Sepasang Zippo


(yang masih kurahasiakan dari dia)

Sudah menjadi kebiasaanku untuk menghadiahi diri sendiri setelah pencapaian yang lumayan membutuhkan -sedikit- perjuangan, pppffhh… waktu itu hal pertama yang terpikirkan adalah membeli Zippo, yeah hanya sebuah korek memang, tapi entah kenapa aku begitu pengen memilikinya lagi, setelah Zippo pertamaku diembat seorang teman yang klepto, shit!!

Dan ketika aku sukses menghadapi ujian pendadaran yang menguras keringat dan mengobrak-abrik susunan otakku, aku sudah mengincar Zippo idaman dari www.mybutik.com. Sudah kupelototi puluhan, bahkan ratusan Zippo disana, dan pilihanku jatuh pada warna black ice yang menggoda dengan gambar resleting dibuka bertuliskan zippo, hmmm…pilihan yang tidak jelek bukan?
Tapi entah kenapa, niat untuk segera menghubungi admin website tersebut belum kesampaian juga sampai seminggu berlalu. Waktu itu juga Paul -yah,cowoku yang baik hati- ingin memberikan kado kelulusan, tapi dia bingung apa yang aku pengen.

09 Juni 2009

Sebuah Niat Baik

Sore itu agak mendung, aku masih saja betah duduk di sebuah bangku kayu yang sudah mulai lapuk. Gerimis sudah mulai turun dan sebentar lagi hujan datang. Biarlaaah ... aku masih ingin berlama-lama ditempat itu. Ya, di depan sebuah patung Buddha yang terlihat sangat adem.




Sekelebat kulihat seorang gadis kecil lewat, dia mendekati patung Buddha yang kehujanan dan dia melihat sekeliling mencari sesuatu, tidak ada apa-apa yang bisa dia pungut, dia memegang patung itu untuk dipindahkan ke dekat pohon, tapi patung itu dilekatkan ke semen, dia kebingungan.