17 April 2015

Secangkir Teh untuk Pelanggan


Pengin sharing ini sebenarnya udah lama, udah dicorat-coret di blocknote, tapi kok mau diketik pasti tertunda terus. Hmm, kebetulan banget nih dapet bonus waktu, bisa bangun nyubuh pas weekend gini, ini bener-bener kejadian langka dalam hidupku. Ha! Biasanya kalau malam weekend, jam 3 baru tidur. Eeeh, ini tadi ketiduran jam 9, jadi jam 3 udah njenggelek. Mata melotot nggak bisa tidur lagi. Ya sudah, mari kita berjingkat ke dapur untuk bikin kopi. 

Hmm, ternyata bangun dini hari itu menyenangkan!

Yup, akhir-akhir ini memang aku lagi suka banget baca buku tentang Marketing, baik yang berhubungan dengan pelayanan pelanggan ataupun pemasaran produk secara umum. Yang penting Marketing! Dan dalam dua bulan ini, sudah ada 3 buku tentang Marketing yang kumakan. Jadi, aku bisa bikin postingan ini, hasil dari membaca buku-buku tersebut dan sedikit sharing pengalaman pribadi.

Di Indonesia ini, pelayanan pelanggan kayaknya masih belum jadi prioritas utama sebuah usaha, ya? Orientasi mereka kebanyakan ... bagaimana cara mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal serendah-rendahnya. Boro-boro menyisihkan sebagian anggaran untuk mendanai kegiatan pemasaran, terpikirkan saja kayaknya nggak J.

Ya, tentunya sudah banyak banget yang fokus ke kepuasan pelanggan, terutama perusahaan-perusahaan besar yang memang sudah memiliki formasi lengkap, punya modal lebih dari cukup, dan sumber daya yang menunjang. Namun, untuk perusahaan-perusahaan kecil, masih banyak yang belum memikirkan hal ini. Online shop yang sedang marak ini pun kayaknya nggak peduli banget dengan kesan para pelanggannya: melayani seenaknya aja seolah kita yang butuh mereka. Hihi. Sudah sering sih ngalamin betapa galaknya para penjual online itu.

Yuk ah, buat pemilik bisnis ataupun orang yang bekerja sebagai marketing, alangkah baiknya kalau kita lebih peduli dengan konsumen. Bagaimana pun, dari merekalah bisnis kita tetap bertumbuh dan berkembang. Melalui merekalah, kita semua bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Nggak etis banget kan kalau kita justru tidak memedulikan pelanggan? Kalau pelanggan kabur, bisnis kita juga selesai loh! Perusahaan tempat kita bekerja gulung tikar, dan kita semua kehilangan pekerjaan. Hiks. 


Nah, ini beberapa tip yang mudah-mudahan berguna untuk teman-tema yang memiliki bisnis atau buat teman-teman yang bekerja sebagai marketing. Bagaimana agar kita bisa memuaskan pelanggan? Voila....
  1. Mendengar. Yes, mendengar adalah kunci untuk memahami apa yang pelanggan kita butuhkan. Hal ini merupakan faktor penting dalam membantu kita melihat dan merencanakan arah bisnis kita. Dengan mendengar, kita tahu apa yang diinginkan pelanggan dari produk/jasa kita. Kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan jika ada kesalahan, dan bisnis kita akan semakin baik, semakin sesuai dengan yang pelanggan kita inginkan.
  2. Pemilik bisnis berkewajiban mengirimkan apa pun yang telah dijanjikan pada saat transaksi penjualan. Teliti lagi, apakah iklan kita di sosial media sudah sesuai dengan kondisi produk kita? Apakah kita sudah memberikan bonus seperti yang kita janjikan? Jangan membuat iklan terlalu bombastis karena bisa membuat pelanggan kecewa ketika menerima produk yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita iklankan. Jangan lupakan juga foto, buatlah foto produk yang sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya. Jangan terlalu banyak editan, apalagi memotret sampel produk yang tidak sesuai dengan barang yang kita kirim ke konsumen. It's a big no no.
  3. Bangun kepercayaan pelanggan. Beri tahu mereka bagaimana kita mendapatkan keuntungan dari pembelian produk mereka. Jujurlah pada mereka. Jika kita berbuat salah, bertanggungjawablah, dan tawarkan servis terbaik untuk memperbaikinya.
  4. Beberapa orang tidak menghabiskan banyak waktu untuk riset dan memahami banyaknya komitmen yang harus dibuat untuk mengembangkan bisnis. Jadi, meluangkan waktu untuk mencari tahu apa yang sedang dibutuhkan pelanggan akan sangat bagus untuk bisnis kita. Keluarlah dari 'bilik nyaman' dan sapalah pelanggan. Dari situ kita bisa tahu apa yang pelanggan inginkan dari usaha kita.
  5. Sebagai pemilik bisnis, kita adalah penjual utama bagi perusahaan kita. Kemampuan bagaimana memasarkan produk adalah ilmu yang harus dipegang dan menjadi dasar kita menjual produk. Yes, menjual adalah seni, jangan terus menerus melakukan hard selling karena pelanggan akan bosan. Sesekali kita bisa memberikan “hiburan” pada pelanggan. Misalnya, memberikan tip-tip umum di sosial media kita, mengadakan gathering dengan pelanggan kita, mengadakan giveaway untuk menjaring pelanggan baru, mengirimkan bonus untuk pelanggan loyal, dan hal-hal yang sifatnya fun lainnya.
  6. Membina hubungan baik dengan siapa pun, mereka akan menjadi jaringan yang bagus dalam mempromosikan produk kita. Yup, jika kita bisa menjalin hubungan baik dengan semua orang, mereka akan dengan suka rela membantu bisnis kita. Teknik getok tular ini sangat penting dan cepat membuat bisnis kita dikenal lebih luas.
  7. Berikan sentuhan personal agar pelanggan merasa spesial. Di Stiletto Book, kami sering mengirimkan greeting card dengan menuliskan nama pelanggan di sana. Yah, ucapannya sih memang cuma berupa tulisan, “Dear Dewi, selamat membaca!”, misalnya, atau ucapan ulang tahun jika mereka memang melakukan pemesanan buku di hari ulang tahunnya. Hal sesimpel ini ternyata membekas di benak pelanggan. Mereka akan dengan suka rela meng-upload hasil belanjaan mereka di sosial media, dan tentunya ini sangat membantu kita melakukan aktivitas promosi.
  8. Adillah terhadap pelanggan. Jika mereka membeli produk yang ternyata rusak dan ingin diganti, kenapa kita tidak menyenangkan mereka? Kalau perlu kasih ‘bonus’ agar mereka tidak kecewa.
  9. Jangan sekali-kali meremehkan pelanggan. Mungkin kita sering mendapati pelanggan yang demanding, banyak maunya, bawel, dan seterusnya. Sabar aja, mereka kan akan mengeluarkan uang untuk membeli produk kita, jangan ikutan bawel dan sewot dong ah. Mungkin kita juga sering membatin, "Halah, cuma beli satu aja berisik banget!". Hmm, buang jauh-jauh pikiran ini. Memangnya target bulanan kita akan terpenuhi jika kita tidak melayani pelanggan-pelanggan yang beli satu-dua produk? Target penjualan kan akan terpenuhi karena akumulasi dari penjualan selama sebulan/setahun? Karena kita melayani pelanggan yang membeli satu-dua produk dan pelanggan yang memborong produk kita? So, tetap layani mereka dengan sepenuh hati, jangan bedakan pelanggan yang membeli satu biji atau membeli borongan. Ya, kalau mereka ngeborong sih, boleh banget kalau mau kasih diskon spesial. Mereka pasti akan senang. Jangan lupakan  emotikan senyum untuk membalas chat pelanggan yang komplain. :)   
  10. Konsumen tidak mau terus menerus membeli barang. Mereka mencari kepastian kualitas yang baik dan layanan prima. Yang membedakan bisnis kita dengan yang lain adalah ... jika kita sukses membuat pelanggan merasa mereka telah mendapatkan keuntungan secara emosional dan praktis melalui produk/layanan kita. Hal yang pantang aku lakukan dan selalu kutekankan kepada marketing serta penjualan adalah mengucapkan, “Ditunggu pesanan berikutnya ya!”. Ya, ucapan ini akan terdengar sangat annoying buat pelanggan. Kita sih enak ya mereka belanja terus, lah dia? Bisa habis uangnya kalau pesan produk terus ke kita. Jadi, kalimat di atas bisa aja diganti dengan, misalnya, “Semoga suka dengan produk kami ya!”, “Terima kasih ya. Have a nice day!” dan lain-lain.


Yup, itu tadi 10 prinsip melayani pelanggan agar kita selalu bisa menghangatkan hatinya, selayaknya menyeduhkan teh spesial untuk pelanggan. Kita tahu, menjaga hubungan baik dengan pelanggan membutuhkan kerja keras dan disiplin tinggi, tapi informasi yang didapat dari hubungan ini berperan sangat penting bagi bisnis kita. Semoga berguna ya....

02 Mei 2014

Behind The Book "EVERLASTING"

 “Siapa pun yang mengatakan waktu bisa menyembuhkan semua luka, huh, ia berani bertaruh, orang itu pasti belum pernah mengalami apa yang ia rasakan.”

Ketika membaca naskah mentah Everlasting, aku bener-bener nggak bisa berhenti. Penasaran terus. Walaupun alurnya tidak begitu cepat, tapi penulis pinter mengikat pembaca buat nggak naruh bukunya kecuali terpaksa (Nanti aku mau nanya ke Mbak Ayu Gabriel bagaimana caranya membuat joke-joke yang renyah dan nggak garing. Ingatkan aku ya!).

Naskah lengkap ini juga dibaca oleh satu editor lainnya, sebut saja namanya Tikah Kumala, dan tanpa perdebatan sengit (bener-bener nggak pakai debat kusir dan adu argumen—seolah sudah sewajarnya memang naskah ini terbit), kami sepakat untuk menerbitkan novel “Everlasting” ini. YEAY!

Akhirnya novel ini masuk jadwal edit bulan Desember 2013 kemarin. Ketika naskah mulai diedit, aku sampai kebingungan, “Aku kudu apain ini novel? Udah bagus gini?”. Bahkan, niat awalnya aku mau pangkas jadi 210 halaman saja (Naskah asli setebal 237 halaman A4), aku bener-bener nggak bisa. Satu bagian saling berkaitan dengan bagian lain. Satu kejadian saling terhubung dengan kejadian lain. Kalau aku pangkas bagian ini, bagian yang ono harus ikut diedit konten juga. Akhirnya, aku cuma membuang sedikit-seikit aja adegan-adegan yang tidak begitu penting. Parahnya lagi, walaupun sebenarnya itu adegan tambahan yang menjelaskan detail-detail kecil, semuanya dikemas lucu. Dialognya bener-bener fresh sampai aku sayang untuk membuangnya. Akhirnya ya, dipertahankan! J

23 Maret 2014

Five years to remember: Hidup untuk Mengenangmu


“Ketika hidup terasa sebagai sebuah perulangan. Di situ mati merupakan peralihan yang membebaskan.”

Lima tahun lalu, 23 Maret 2009, adalah hari paling berat dalam hidupku. Seorang adik sepupuku meninggal dalam sebuah kecelakaan tabrak lari. Dan sampai sekarang peristiwa itu seolah terkubur bersama dengan jasadnya, di sudut kota Wonosobo sana, kota kecil kelahiran kami.

Dedi Kurniawan, begitu nama lengkapnya. Umur kami hanya selisih dua tahun. Kami menghabiskan masa kecil bersama di salah satu kampung di daerah Wonosobo. Lima tahun lalu, 22 Maret 2009 pukul 23.15 WIB, aku mendapatkan SMS darinya. Waktu itu dia sudah menjadi seorang polisi dengan pangkat Briptu, sedangkan aku sudah bekerja di Jogjakarta dan tinggal di kosan. Dia ditugaskan di daerah Tegal. Entah di polres, polsek atau apa, aku nggak mudeng.

“Mbaaaaaaaaaaak.....” Begitu bunyi SMS-nya.
Aku pun langsung membalas, “Kenapa malem2 teriak2? Lagi mumet ya?”
Beberapa menit kemudian, dia membalas lagi, “Haha, nggak. Mau konsultasi spiritual nih.”
 Kubalas singkat, “Kenapa? Putus cinta?”
“Nope! Lagi nggak mikirin itu. Ini masalah hidup.” Katanya lagi di SMS-nya.

14 Desember 2013

Behind The Book “Geek in High Heels” and three others chicklit


Atas nama Blog "Secangkirkopimu" yang sudah mulai angker karena jarang kusentuh, kemarin aku berjanji untuk bikin label baru "Behind The Book" yang berisi tulisan kisah-kisah di balik buku yang aku edit. Dan yah, setelah berhasil memposting Behind The Book session-1 yang mana isinya curhatan proses kreatif novel sendiri (HA!), sekarang giliran novel-novel chicklit yang akan kuulas. 

Here we go!

Logo Chicklit terbitan Stiletto Book

Sejak Stiletto Book belum nongol di muka perbukuan Indonesia, aku sudah niat untuk bikin serial chicklit. Awalnya memang aku suka baca novel genre ini karena bener-bener bisa buat relaksasi setelah riweuh dengan pekerjaan ataupun bacaan yang ‘berat’. Jadi, chicklit ini aku jadikan selingan yang memang menurutku sangat pas. Renyah, lucu, tapi tetap ada ‘sesuatu’ yang kuat di dalamnya, apakah itu? Girl power! J

04 Desember 2013

Behind The Book "Seribu Kerinduan"


Novel Seribu Kerinduan yang rilis pada 25 Oktober 2013 kemarin menjalani proses yang cukup panjang sebelum akhirnya terbit.

Ehmm, jadi, draft kasar novel ini 60% sudah selesai tahun 2010 lalu dan kubiarkan berjamur di laptop. Oke, nggak berjamur sih, cuma sedikit bau apek karena lama banget nggak disentuh lagi. Pertengahan 2013 ini, aku memantapkan niat untuk menyelesaikannya. Dan begitulah, kalau ada niat yang kuat (didukung dengan usaha serta doa) seluruh Alam pasti akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Hahaaa. Setuju? Sip.

Yeah, finally ... setelah 2,5 tahun mati suri, aku bisa menyelesaikan novel ini hanya dalam waktu dua minggu. DUA MINGGU saudara-saudara! Luar biasa, kan? Aku nulis sepulang dari kantor. Aku nulis di sela-sela ngurus Bara di rumah. Aku nulis ketika ada jam luang di kantor. Aku nulis di sela-sela waktu masak untuk Bara (untuk bapaknya mah beli aja). Dan aku terus nulis sampai tahu-tahu itu novel sudah rampung! Ajaib memang. Aku aja nggak nyangka bisa menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat. Ingat? Hanya dua minggu! (Iya ... iya ... bawel!)

draft-1 novel Seribu Kerinduan

13 November 2013

My debut novel; Seribu Kerinduan

Alhamdulillah....

Debut novelku akhirnya rilis di penghujung 2013. Tepat 25 Oktober 2013 kemarin, novel ini dilaunching di Toko Buku Togamas Affandi, Jogja. Ada yang tidak biasa di launching novel kali ini, kenapa? Yup, karena pengunjung yang datang disuguhi tontonan teaterikal yang dimainkan oleh dua orang untuk membawakan potongan-potongan adegan dalam novel Seribu Kerinduan ini. Seru! Nanti aku unggah di YouTube kalau sudah selesai proses edit.

Monggo, silakan dicari di toko buku langgananmu. Novel ini sudah mulai beredar sejak awal November 2013. Kalau mau baca komen-komen yang sudah baca novel ini, silakan buka Goodreads saja, semoga setelah membaca komen-komen di sana, jadi semakin semangat membeli novelnya. Hoho. Amin.

Voila, Seribu Kerinduan, my debut novel....

27 September 2013

Perempuan dan Buku



Buku Menciptakan Masa Depan
Itulah tema pameran buku yang diselenggarakan oleh IKAPI-DIY beberapa bulan lalu. 
Percayakah Anda jika buku bisa menciptakan masa depan?
Saya percaya.



Sebelum saya ngobrol lebih jauh tentang buku. Mari kita jalan-jalan ke Jepang dulu. Saya sangat kagum dengan para perempuan Jepang yang rela meninggalkan kariernya demi mendidik anak-anaknya di rumah. Begitulah mereka, berpendidikan tinggi, cerdas, berdedikasi, tapi mau melepas atribut sebagai wanita karier demi anaknya. Kenapa mereka melakukan hal tersebut? Karena mereka menganggap peran itu sebagai penentu bagi kehidupan masyarakat. Seorang Ibu, yang misalnya gagal melakukan perannya sebagai pendidik, akan berisiko sangat luas. Pendidikan keluarga yang gagal akan mengakibatkan seseorang tidak memiliki karakter atau kepribadian yang diharapkan. Hal ini akan merugikan, bahkan merusak, tidak saja keluarga yang bersangkutan, tetapi juga bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendidikan keluarga dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dan utama. Itu di Jepang.

15 Januari 2013

Ke mana perginya penulis muda Jogja?


Siapkan secangkir kopimu sebelum mulai membaca artikel ini.


Ah, setelah sekian lama tidak menulis. Akhirnya aku mau memantapkan hati lagi untuk rutin mengisi blog ini. Alhamdulillah ya punya niat mulia begini? :) Tapi FYI aja sih, buatku, sebulan sekali nulis di sini juga udah masuk kategori rutin. :)

Oke, kali ini aku mau nulis perihal keresahanku (jiah, resah!) tentang langkanya penulis muda Jogja.
Sebenarnya ini sudah lama mengusik ketenanganku, (Ohmaigad, bahasaku!). Dari sekian banyaknya buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit Stiletto Book yang notabene berlokasi di Jogjakarta tercinta ini, baru dua judul buku yang ditulis oleh penulis Jogja dalam kurun waktu dua tahun. Itu pun karena aku yang nodong minta naskah, dan dua-duanya buku nonfiksi. Lalu, untuk buku fiksi macam novel? Stiletto belum punya novel yang ditulis oleh penulis Jogja.

Aku jadi ingat dengan sebuah diskusi di suatu sore yang cerah. Waktu itu, di acara "Jogja Book Fair" yang diselenggarakan oleh IKAPI-DIY, November 2012. Ada sebuah gathering yang menjadi ajang kumpul para pekerja buku di Jogja. Siapa pun boleh datang, mulai dari penulis, resensor, penerbit, sampai masyarakat umum yang memang sedang ada di lokasi acara.