24 Juni 2015

Membuat Produk atau Gagasan menjadi Populer

Ada banyak faktor yang membuat produk, gagasan, ataupun perilaku menjadi populer, menyebar ke seluruh populasi. Bisa jadi hal tersebut dimulai dari segelintir orang atau komunitas, kemudian menyebar dengan sendirinya. Seringkali penyebarannya bermula dari satu orang ke orang lain, seperti halnya virus. Atau dalam beberapa kasus, bisa jadi produk ataupun gagasan menjadi populer lantaran ada cerita menarik yang membuatnya cepat menyebar.
Namun, walaupun banyak contoh produk dan gagasan yang kelihatannya mudah sekali menjadi populer, mencari sesuatu yang mudah diterima oleh semua kalangan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Butuh perjuangan dan kekonsistenan dalam melakukannya. Sudah siap? Haha.
Kali ini aku mau share hasil membaca beberapa buku tentang viral marketing, salah satunya buku Contagious, karya Jonah Berger.
Dari hasil membaca buku-buku marketing, aku bisa membuat satu benang merah yang bisa kita jadikan pegangan, bahwa produk ataupun gagasan bisa menjadi menular bukan karena sudah ditakdirkan begitu. Yup, sifat menular bukan dilahirkan, tapi dibuat. Tentunya ini menjadi kabar baik untuk kita semua, kan? Artinya, kita bisa membuat produk ataupun pikiran kita menjadi mewabah, dibicarakan banyak orang, dan campaign kita berhasil, atau produk kita akan dicari banyak orang.
Memang, ada beberapa produk ataupun pikiran yang beruntung mendapat tempat di khalayak sehingga mudah menjadi bahan pembicaraan. Kampanye antirokok, misalnya, sekarang sedang heboh terjadi di Indonesia. Kejadian seorang perokok yang terkena kanker laring dan akhirnya meninggal (setelah sebelumnya beliau menjadi tokoh antirokok), sekarang sedang dibicarakan oleh ribuan orang di sosial media. Kejadian ini masuk ke dalam hal-hal yang secara alami terkesan membangkitkan kehebohan, sehingga banyak orang dengan suka rela ikut menyebarkannya. Ikut mengkampanyekan bahaya antirokok.
Namun, banyak juga hal-hal biasa pun mampu membangkitkan getok tular kalau seseorang berhasil menemukan jalan yang tepat untuk melakukannya. Nggak peduli berapa polos atau membosankannya sebuah produk atau gagasan tersebut, selalu ada cara untuk menjadikannya menular.
kredit: www.linkedin.com

Jadi, apa saja kuncinya agar produk/gagasan/pikiran kita bisa menjadi populer dan diperbincangkan banyak orang? Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Voila.....

1.      Social Currency (Mata Uang Sosial)
Apa yang dirasakan seseorang ketika membicarakan produk ataupun gagasan? Kebanyakan orang pengin terlihat cerdas daripada bodoh. Pengin tampak uptodate daripada ketinggalan informasi. Pengin terlihat kaya daripada sebaliknya. Ya nggak sih? Sama seperti baju yang kita pakai, apa yang kita katakan ataupun kita share di media juga berpengaruh terhadap pandangan orang lain terhadap diri kita atau tempat usaha kita.
Mudah sekali menebak sifat ataupun kesukaan orang dari status pribadinya di sosial media. Orang yang suka baca buku, akan sering membagi buku apa yang sedang dibaca. Orang yang nggak suka dengan Bapak Presiden, akan membagi rumor negatif apa pun yang ada di media, entah beritanya benar atau tidak, yang penting share, biar dunia tahu kalau orang tersebut ada di tim oposisi Bapak Presiden, hihi.
Jadi, untuk membuat orang membicarakan sesuatu, kita perlu menciptakan nilai yang membantu mereka memperoleh kesan yang diinginkannya tersebut. Kita perlu menemukan keistimewaan mendasar yang membuat orang merasa sebagai bagian dari lingkaran dalam kita. Kita perlu mengungkit mekanika permainan untuk memberi orang cara untuk memperoleh status yang terlihat, yang bisa mereka perlihatkan kepada orang lain. Yang bisa mereka pertunjukkan ke orang lain dengan tujuan tertentu.

2.      Trigger (Pemicu)
Bagaimana sih caranya orang membicarakan produk ataupun gagasan kita? Pemicu adalah rangsangan yang bisa membuat berita mudah menyebar, membuat gagasan mejadi saling terhubung, bahkan bisa menjadi sebuah movement yang tidak bisa kita sepelekan. Pemicu jugalah yang membuat produk kita masuk ke target market yang kita harapkan. Orang akan membicarakan apa pun yang sering terlintas di pikiran. Jadi makin sering orang berpikir tentang suatu produk/gagasan, makin sering pula produk/gagasan kita dibicarakan. Yup, kita perlu menciptakan pemicu yang bisa menghubungkan produk ataupun gagasan kita dengan petunjuk yang sudah mapan di lingkungan yang menjadi sasaran kita. Bagaimana misalnya? Kita bisa pakai bantuan teman yang sudah memiliki banyak followers, blogger, orang yang berpengaruh, atau siapa pun untuk membantu mempopulerkan ide/produk kita. Hal ini akan menjadi lebih terasa jika kita melakukan serentak dan dalam waktu yang relatif sama.

3.      Emotion (Emosi)
Ketika kita peduli, kita cenderung berbagi. Sharing is Caring. Kita peduli dengan kasus meninggalnya bocah kecil Angeline kemarin, kita akan membagi berita tentangnya. Kita peduli dengan nasib persebak-bolaan nasional, kita akan share berita tersebut. Apa pun yang menyangkut emosi kita, kita akan bagikan dengan suka rela. Jadi, bagaimana kita menciptakan pesan dan gagasan untuk membuat orang merasakan sesuatu? Karena secara alami, konten yang mudah menular adalah konten yang bisa menyentuh hati khalayak. Jadi, alih-alih menonjolkan fungsi, kita perlu berfokus pada perasaan. Emosi mudah dikobarkan. Tantangan kita adalah menyentuh emosi orang yang ingin kita sasar. Misalnya, produk Bodyshop yang menggunakan kampanye hijaunya akan mudah menempel di hati pemakai brand kosmetik tersebut. Bagaimana orang merasa ikut mencintai lingkungan dengan menggunakan kosmetik merek Bodyshop. Kita bisa menyelipkan cerita menarik yang bisa membangkitkan emosi orang lain sehingga orang akan dengan suka rela membantu menyebarkannya karena merasa mendapatkan sentuhan emosi dari kita. Ssst, kadang emosi negatif juga berguna untuk hal ini, lho!

4.      Public (Umum)
Ungkapan terkenal monkey see, monkey do bisa kita uji cobakan. Hal ini memberitahu kita betapa sulit bagi kera untuk meniru tanpa melihatnya. Membuat sesuatu menjadi terlihat menjadikan sesuatu itu lebih mudah ditiru, yang memperbesar kemungkinan menjadi populer. Yup, kita perlu membuat produk dan gagasan menjadi lebih umum. Kita perlu merancang produk dan gagasan yang mengiklankan diri dan menciptakan sisa perilaku yang meninggalkan jejak, bahkan setelah orang membeli produk atau mendukung gagasan kita. Kirimkan produk kita kepada orang yang punya pengaruh besar pada komunitasnya, misalnya. Dengan demikian, produk kita akan sering terlihat banyak orang dan membuat orang lain ingin memilikinya juga. Punya kenalan yang cukup populer di sekolah/kampus/komunitasnya? Minta bantuanlah untuk ikut mempromosikan produk yang kalian miliki. It works.

5.      Practical Value (Nilai Praktis)
Bagaimana kita bisa merancang konten yang tampak bermanfaat? Sebagai makhluk sosial, orang punya kecenderungan membantu orang lain dengan barbagi, baik berbagi sesuatu secara material, ataupun berbagi informasi yang bermanfaat. Jadi, kalau kita bisa menunjukkan kepada mereka bagaimana produk atau gagasan kita bisa menghemat waktu, meningkatkan kesehatan, membuat mereka lebih terampil, atau menghemat uang, mereka akan menyebarkan informasi tersebut. Tidak hanya menyebarkan secara virtual, bisa jadi hal tersebut menjadi bahan obrolan sambil makan siang atau ngopi-ngopi cantik. Namun, dengan banyaknya informasi yang tersedia di jagad raya ini, kita perlu membuat informasi kita tampak menonjol dan berbeda dengan yang lain. Kita perlu menyoroti keistimewaan yang kita tawarkan (entah secara keuangan ataupun yang lain), kemudian menjadikan hal tersebut sebagai kata kunci untuk disebarluaskan, diceritakan dari satu orang ke orang lain.

6.      Story (Cerita)
Orang tidak hanya berbagi informasi, tapi juga berbagi cerita. Cerita seperti halnya sebuah wahana yang bisa kita selipi pesan yang ingin kita sampaikan. Informasi menyebar dengan cara menyamar sebagai obrolan ringan pada saat-saat senggang. Jadi, kita perlu membangun cerita kita sendiri, membenamkan produk atau gagasan kita dalam sebuah cerita yang menarik, untuk diceritakan kembali. Namun yang harus diingat adalah, kita harus bisa menciptakan pesan yang menyatu dengan narasi cerita sehingga orang tidak menyampaikan cerita tanpa informasi produk/gagasan yang dikandungnya. Nggak lucu kan cerita kita menyebar dari mulut ke mulut tapi produk kita malah dilupakan lantaran ceritanya kurang menyatu? Itulah kenapa banyak perusahaan yang membayar brand ambasador untuk mewakili mereka menyampaikan pesan ke khalayak. Kita juga bisa lho menciptakan brand ambasador versi kita sendiri. Why not?

Yup, itu tadi enam prinsip menularkan produk dan gagasan agar dikenal lebih luas dan menjadi mewabah. Prinsip-prinsip yang dalam bahasa Inggris bisa disingkat dengan STEPPS ini bisa mulai diterapkan dari sekarang jika ingin menjadikan produk/gagasan lebih populer. Beberapa dari keenam cara tersebut memang perlu usaha keras untuk bisa berhasil, namun yang lainnya bisa mudah kita lakukan asal kita kreatif.

kredit: www.runesmedia.com

Memang, ini bukanlah hal yang mudah dan instan, kita perlu melakukannya secara terus menerus untuk bisa melihat hasilnya di kemudian hari. Seperti halnya usaha yang sudah aku lakukan bersama tim di Stiletto Book, penerbitan buku yang aku kelola. Mengkampanyekan orang untuk membaca buku bukan hal yang mudah. Namun, dengan menciptakan kesan (social currency) bahwa “Smart woman is sexy”, menjadi banyak orang (dalam hal ini perempuan) mau dengan suka rela membagikan informasi ketika sedang membaca buku. Sampai sekarang, kami banyak membagikan stiker dengan tulisan “Reading is sexy”, atau “Be smart and sexy with Stiletto Book”, memuat artikel bertema asyiknya membaca, menyumbangkan beberapa buku ke komunitas, dan lain-lain. Semuanya bertujuan untuk menciptakan kesan bahwa membaca itu bukan sesuatu yang membosankan, bahwa perempuan yang suka membaca itu seksi karena akan lebih cerdas dan terampil, bahwa membaca bukan kerjaan orang-orang serius saja, membaca juga bisa menjadi hobi yang mengasyikkan, dan seterusnya. Syukurlah kampanye ini sudah mulai terlihat hasilnya sedikit demi sedikit. Banyak share di media sosial dengan men-tag dan me-mention Stiletto Book ketika sedang membaca, bahkan ketika mereka membaca buku terbitan penerbit lain juga nge-tag kami segala, haha. Hal ini pulalah yang membuat kami masih survive sampai sekarang dan terus produksi buku, hihi. Ada juga beberapa hal yang sering kami lakukan berkaitan dengan enam prinsip di atas tadi, aku ceritakan lain kali sambil ngopi-ngopi aja ya? Haha.
Think out of the box, agar kita bisa selalu survive di tengah dinamika hidup yang berjalan begitu cepat ini, hihi. Semoga bermanfaat ya buat kalian yang sedang pengin membangun brand produk ataupun brand image pribadi.
Ciao bella!

2 komentar: